Banyak yang menyangsikan Minanga Tamvan itu adalah lokasi sriwijaya di luar Sumsel. Seperti yg disebutkan dalam prasasti Kedukan bukit pada abad ke 7, makanya banyak budayawan Sumsel tidak percaya diri dengan argumentasi toponimi dari berbagai argumen pengamat di luar itu, bahwa orang Sriwijaya itu imigrasi dari wilayah lain, dari pulau lain, bahkan dari negara lain, berdasarkan argumentasi toponimi yg menyesatkan, terutama dari kata Minanga, dikaitkan dengan menang adu kerbau, "menang karabau" "menang adu karabau jo Majapahit" Tiba tiba menjadi Minanga, atau argumentasi toponimi lainnya, padahal sumber lain paling kuat tentulah prasasti, pasti belum ada campur tangan AI didalam sumber primer utama argumen ini prasasti Kedukan bukit dan prasasti baturaja yg diperkirakan abad ke 7, bukti 2 prasasti ini cukup kuat untuk mengusir argumen toponimi apalagi pendapat Babe Ridwan Saidi.
LOKASI PRASASTI KEDUKAN BUKIT
Mengapa prasasti Kedukan bukit ditemukan di Palembang di Sungai Kedukan, tidak di jambi, di padang atau di Bantul, dengan bahasa Melayu kuno, dan bukan bahasa Jawa kuno, ini menunjukan bahwa segel (piagam)kota Palembang ini dibangun oleh Sriwijaya, itu kata prasasti bukan pendapat ahli sejarah, atau toponimi, apalagi argumentasi babeh yg mengaitkan ratu Sima .
Isi prasasti yang menggunakan bahasa Melayu Kuno dan huruf Pallawa ini telah dialihaksarakan menjadi:
Baris 1: Selamat! Tahun Saka telah lewat 604 (682 M), pada hari kesebelas paro-terang bulan Waisakha.
Baris 2 & 3: Dapunta Hyang naik di perahu mengambil siddhayatra (perjalanan suci/kemenangan).
Baris 4 & 5: Pada hari ketujuh paro-terang bulan ( diperkirakan tgl 16 atau 17 Juni) Jyestha Dapunta Hyang bertolak dari Minanga Tamwan(sumber perdebatan toponimi nya di sini) sambil membawa tentara dua laksa (20.000 pasukan, pada masa itu merupakan pasukan terbesar di Asia Tenggara
Baris 6 & 7: ...dua ratus (peti) perbekalan berjalan dengan perahu dan yang berjalan kaki sebanyak seribu tiga ratus dua belas (1312) datang di Mukha Upang ( daerah ini masih di Sumsel) dengan sukacita.
Baris 8, 9 & 10: Pada hari kelima paro-terang bulan Asadha, dengan cepat dan penuh kegembiraan datang membuat wanua (kota/kedatuan) Sriwijaya. Kemenangan, perjalanan berhasil, dan makmur senantiasa.
ADA RATUSAN LOKASI BERNAMA MINANGA
Dalam bahasa Melayu Kuno, kata "minanga" merujuk pada kawasan perairan, muara sungai, atau tempat pertemuan dua aliran sungai. Istilah ini sangat erat kaitannya dengan sejarah awal Nusantara, istilah ini masih digunakan di beberapa daerah di Sumsel terutama di Minango Ogan, celakanya budayawan kita paling suka mengklaim sebuah peradaban besar dengan toponimi, karena ada ratusan nama Minanga yg digunakan untuk lokasi yg terkait perairan, apalagi Sumsel sangat kaya dengan istilah perairan, seperti," pauk" ,""ulak" "tebat", "arisan", "terusan" "Babat", Kedukan, " Kualo"
Karena sumber primer tidak ditemukan, maka toponimi, Hikayat, sastra tutur, menjadi sebuah argumen.
PRASASTI BATURAJA MENGUSIR TOPONIMI
Prasasti Baturaja adalah peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang ditulis menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno dari sekitar abad ke-7. Prasasti ini berisi pesan penting mengenai perundingan, ancaman, dan menjadi kunci pemecah misteri asal-usul Sriwijaya.
Berikut adalah rincian isi prasasti
Tawaran Pengampunan: Penguasa Sriwijaya sempat menawarkan perundingan dan kedudukan kepada para pemberontak atau kelompok yang tidak patuh di daerah Minanga.Kutukan dan Sanksi:
Berisi kutukan, sumpah, dan ancaman hukuman berat bagi siapa saja yang berkhianat, tidak mau tunduk, atau melanggar kesetiaan kepada penguasa Sriwijaya.
Petunjuk Geografis: Menjadi titik terang yang menjelaskan lokasi Minanga (disebutkan dalam Prasasti Kedukan Bukit), yang diyakini para arkeolog berada di sekitar aliran Sungai Komering, Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan.
MENG"ANAK KECIKKAN" ARTI WANUA
banyak budayawan modern yang menyamakan istilah Wanua dalam bahasa Jawa kuno dengan Wanua dalam bahasa Melayu kuno, begitu, dan itu jadi sumber sesat pikirnya.
Pengamat sejarah kadang membuat argumen,
“Di prasasti Jawa Kuno, wanua artinya desa. Nah Prasasti Kedukan Bukit juga nyebut wanua. Berarti wanua yang didirikan Dapunta Hyang itu cuma desa. Jadi Sriwijaya awalnya cuma sekelas desa.”
Ini namanya menyamakan wanua Kedukan Bukit 682 M = wanua Wanua Tengah 863 M = desa kecil. Padahal istilah Wanua Jawa kuno adalah serapan dari Wanua Melayu kuno.
Kenapa penyamaan itu keliru?
Kesalahan logikanya: false equivalence + anachronism. Menggunakan arti kata dari zaman yang lebih muda untuk menafsirkan arti kata pada periode zaman yang lebih tua.
Arti Wanua dalam kontekan Kedukan Bukit adalah " newly established settlement that became the center of the kadatuan". Makanya perlu 20.000 pasuka di ibukota baru. Ini proto-ibu kota.. Arti Wanua dalam montekts Jawa Kuno adalah village/rural settlement sebagai unit administratif Mataram.
Boechari di Melacak Sejarah Kuno Indonesia menulis: “Wanua yang didirikan Dapunta Hyang jelas bukan desa biasa dalam konteks Jawa kuno, melainkan pusat kedatuan yang baru dibangun.”
Memang ada desa di abad ke7dengan 20.000 balatentara lebih, mikir pak Bochari? Apalagi disamakan dengan sebuah komunitas.
Jadi berbeda kata 'marwuat wanua" vs manusuk sima ri wanua. Dalam istilah Melayu, mengajak kecikkan arti Wanua dari Kerajaan menjadi Desa.

0 Komentar