Prasasti Baturaja merupakan salah satu peninggalan penting Kedatuan Sriwijaya yang ditemukan di Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Prasasti ini ditulis menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno. Kondisinya berupa fragmen sehingga sebagian isi prasasti telah hilang. Meski demikian, bagian yang masih terbaca memberikan informasi yang sangat penting mengenai sejarah awal Sriwijaya.
Berbeda dengan Prasasti Kedukan Bukit yang menceritakan perjalanan suci (siddhayatra) Dapunta Hyang, Prasasti Baturaja lebih menitikberatkan pada penegasan kekuasaan Datu Sriwijaya melalui kutukan terhadap orang-orang yang berkhianat. Yang menarik, prasasti ini juga memuat penyebutan Mianga (Minanga), sehingga menjadi salah satu petunjuk penting dalam upaya mengidentifikasi lokasi Minanga yang disebut dalam Prasasti Kedukan Bukit.
Alih Aksara Prasasti Baturaja:
1. Ra ulam_dre mianga be ka tu rantuh
2. Ce lawan drohaka........ma (ja) ja ri drohaka niujari drohaka
3. Ya bhakti tatwaarjjawa hya (m) ku danda di yam nigalarku sanyasa da (tua)
4. Malam parwwanda datu Sriwijayah talu muah yam ura (m)
5. Harta. Makalani (t) t uram makasaki (t)
6. Karanana
Terjemahan:
1. "...orang ... di Mianga (Minanga) ... yang jatuh atau runtuh."
2. "Yang melawan, berkhianat, berhubungan dengan pengkhianat, atau mendengarkan perkataan pengkhianat."
3. "Barang siapa berbakti dan setia kepadaku, kepadanya akan diberikan anugerah atau kedudukan olehku."
4. "...di bawah kekuasaan Datu Sriwijaya ... akan ditundukkan atau dikalahkan."
5. "...akan mengalami penderitaan atau kesengsaraan, menjadi sakit."
6. "Karena itu."
Karena prasasti ini hanya tersisa dalam bentuk fragmen, beberapa bagian masih sulit dibaca dan masih terdapat perbedaan penafsiran di kalangan para ahli. Meskipun demikian, isi keseluruhannya menunjukkan bahwa Datu Sriwijaya sedang menegaskan kekuasaannya dengan menjanjikan penghargaan bagi orang-orang yang setia serta mengancam hukuman dan kutukan bagi mereka yang berkhianat.
Prasasti Baturaja menggambarkan keadaan ketika Sriwijaya sedang menghadapi ancaman dari pihak-pihak yang tidak setia. Orang yang tetap berbakti kepada Datu Sriwijaya dijanjikan memperoleh kedudukan atau anugerah, sedangkan mereka yang berkhianat, membantu pengkhianat, maupun mendengarkan perkataan pengkhianat akan dikenai hukuman dan kutukan. Isi ini memperlihatkan adanya proses konsolidasi kekuasaan sebelum Sriwijaya berkembang menjadi kekuatan besar di Nusantara.
Walaupun tidak memuat angka tahun, terdapat beberapa alasan yang membuat Prasasti Baturaja diduga berasal dari masa yang lebih awal atau setidaknya mendahului peristiwa yang diceritakan dalam Prasasti Kedukan Bukit.
1. Bentuk aksara yang lebih tua
Dari sisi paleografi, bentuk aksara Pallawa pada Prasasti Baturaja dinilai lebih sederhana dan memiliki ciri yang lebih awal dibandingkan aksara pada Prasasti Kedukan Bukit. Hal ini membuka kemungkinan bahwa prasasti tersebut dibuat sebelum tahun 683 M, meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan.
2. Isi prasasti menggambarkan tahap konsolidasi
Prasasti Baturaja tidak menceritakan penaklukan wilayah, melainkan penegasan kesetiaan kepada Datu Sriwijaya dan ancaman terhadap para pembangkang. Sebaliknya, Prasasti Kedukan Bukit telah menceritakan keberhasilan Dapunta Hyang melakukan siddhayatra dan memperoleh kemenangan. Perbedaan isi tersebut menunjukkan dua tahap perkembangan Sriwijaya, yaitu konsolidasi kekuasaan terlebih dahulu, kemudian ekspansi.
3. Penyebutan Mianga (Minanga)
Prasasti Baturaja menyebut nama Mianga (Minanga), sedangkan Prasasti Kedukan Bukit menyebut bahwa Dapunta Hyang memulai perjalanan sucinya dari Minanga. Apabila kedua nama tersebut merujuk pada tempat yang sama, maka Prasasti Baturaja dapat dipahami sebagai gambaran keadaan Minanga sebelum menjadi titik awal ekspedisi besar Sriwijaya.
4. Kronologi yang lebih runtut
Apabila Prasasti Baturaja memang lebih dahulu, maka rangkaian peristiwa sejarah Sriwijaya menjadi lebih logis.
• Datu Sriwijaya menghadapi ancaman dan pemberontakan di kawasan Minanga.
• Kesetiaan para pengikut ditegaskan melalui Prasasti Baturaja.
• Setelah keadaan stabil, Dapunta Hyang memulai siddhayatra dari Minanga sebagaimana dicatat dalam Prasasti Kedukan Bukit.
• Ekspedisi tersebut menghasilkan kemenangan dan memperluas wilayah kekuasaan Sriwijaya.
Dengan demikian, Prasasti Baturaja dapat dipandang sebagai latar belakang yang menjelaskan mengapa ekspedisi besar dalam Prasasti Kedukan Bukit kemudian dilakukan.
Penelitian terbaru, termasuk yang disampaikan arkeolog BRIN Wahyu Rizky Andhifani, mengemukakan bahwa kawasan Sungai Komering merupakan salah satu kandidat terkuat lokasi Minanga. Prasasti Baturaja menjadi dasar penting bagi hipotesis tersebut karena ditemukan di wilayah yang sama dan memuat penyebutan Mianga. Ditambah dengan temuan arkeologi, seperti arca Buddha perunggu di kawasan Baturaja, serta posisi Sungai Komering yang terhubung langsung dengan Sungai Musi menuju Palembang, dugaan bahwa Minanga berada di kawasan Sungai Komering semakin memperoleh dukungan.
Hipotesis ini juga diperkuat oleh keberadaan sebuah tempat bernama Minanga yang terletak tidak jauh dari lokasi ditemukannya Prasasti Baturaja. Menariknya, nama Minanga telah dikenal jauh sebelum Prasasti Kedukan Bukit berhasil dibaca pada awal abad ke-20. Hingga kini, nama tersebut masih bertahan dalam bentuk Desa Minanga Besar dan Desa Minanga Tengah di kawasan Sungai Komering, Sumatera Selatan.
Di sekitar kawasan Minanga juga terdapat sejumlah petunjuk yang menarik, seperti nama-nama kampung yang berkaitan dengan pusat pemerintahan, tradisi makam-makam kuno yang dihormati masyarakat sebagai makam para puyang atau tokoh masa lampau, serta penemuan arca Buddha perunggu tidak jauh dari kawasan tersebut. Selain itu, sejumlah kosakata dalam prasasti-prasasti Melayu Kuno Sriwijaya masih dapat dijumpai dalam bahasa setempat, menunjukkan adanya kesinambungan budaya dan linguistik di kawasan itu.
Walaupun berbagai bukti tersebut belum dapat membuktikan secara mutlak bahwa Minanga di Komering adalah Minanga yang disebut dalam Prasasti Kedukan Bukit, kombinasi antara penyebutan Mianga dalam Prasasti Baturaja, keberadaan toponimi Minanga yang telah berusia ratusan tahun, letaknya di jalur Sungai Komering menuju Sungai Musi, serta berbagai temuan arkeologi menjadikan kawasan di Sungai Komering sebagai salah satu kandidat terkuat lokasi Minanga dalam penelitian sejarah Sriwijaya saat ini.
Prasasti Baturaja merupakan salah satu prasasti terpenting dalam memahami sejarah awal Kedatuan Sriwijaya. Selain menjadi petunjuk mengenai keberadaan Minanga, prasasti ini juga memperlihatkan proses konsolidasi kekuasaan Datu Sriwijaya terhadap para pembangkang melalui ancaman kutukan serta penghargaan bagi orang-orang yang tetap setia.
Berdasarkan bentuk aksara, isi prasasti, penyebutan Mianga, serta keterkaitannya dengan kawasan Minanga di Sungai Komering, terdapat alasan yang cukup kuat untuk mempertimbangkan bahwa Prasasti Baturaja mungkin berasal dari masa yang sedikit lebih awal daripada Prasasti Kedukan Bukit.
Apabila hipotesis ini benar, maka Prasasti Baturaja merupakan kepingan penting yang melengkapi kronologi awal berdirinya Kedatuan Sriwijaya, sedangkan Prasasti Kedukan Bukit merekam tahap berikutnya, yaitu ekspedisi besar (siddhayatra) Dapunta Hyang yang mengantarkan Sriwijaya menjadi salah satu kekuatan maritim terbesar di Nusantara.
Keberadaan lokasi Minanga dan Prasasti Baturaja ini juga memperkuat teori bahwa cikal bakal Sriwijaya bermula dari daratan Sumatera Selatan sebelum ke arah pesisir.
0 Komentar