Pada upacara adat (Begawi) naik Pepadun [singgasana/tempat duduk bersila seorang Pegawo Tuho (laki-laki tua yang sudah berkeluarga) untuk mendapatkan gelar adat Suttan] pada masyarakat adat Lampung Pepadun Abung Siwo Migo - Migo Buay Nunyai, 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗿𝗶𝘁𝘂𝗮𝗹𝗻𝘆𝗮 𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗲𝗻𝘆𝗶𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴 (𝗽𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻𝗮𝗻 𝗮𝗱𝗮𝘁 𝗽𝗲𝗿𝘀𝗲𝗸𝘂𝘁𝘂𝗮𝗻) 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗣𝗲𝗴𝗮𝘄𝗼 𝗧𝘂𝗵𝗼 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝗷𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗸𝗶𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗶 𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗹𝗮 𝗸𝗲𝗿𝗯𝗮𝘂.
Berikut prosesi Begawi Cakak Pepadun :
[1] Koordinator Pengelaku Pegawo membuka dan menerangkan acara pelantikan Penyimbang dan/atau Pegawo Tuho.
[2] Menaikan Pegawo Bumi/Pegawo Ratu/Pegawo Batin (dahulu yang berstatus Penyimbang) yang akan Mepadun (naik Pepadun) ke atas Pepadunnya oleh 2 Pegawo Tuho dengan 2 Saksi berstatus Pegawo Tuho.
[3] Para Penyimbang (Penyimbang Nuwo, Penyimbang Suku, Penyimbang Aneg, Penyimbang Migo/Marga) dan Kepala Kampung memberikan selamat kepada yang Mepadun.
[4] Menempatkan Lapan (pasangan adat) yang mau Mepadun dengan posisi duduk berhadapan.
[5] Manasik Mepadun
[6] Yang Mepadun memberikan Katto sama Pepadunnya (artinya ajakan Pepadun orang yang kasih selamat); jika Pepadun Migo 3 rial, Pepadun Aneg 2 rial, Pepadun Suku 1 rial dan Duit Cerutu (uang penghormatan).
Note :
● Setiap orang yang hadir (ngeragemi) dan mempunyai Pepadun di acara Mepadun ini harus mendapat Katto dan Duit Cerutu.
● Penyimbang dan atau Pegawo yang Mepadun memotong kerbau 2 ekor (yang 1 untuk naik dan 1 untuk turun), sedangkan yang Menyiku juga memotong kerbau 1 ekor.
[7] Menyanangkan gelar adat : Adeg Mepadun (dan Adeg Menyiku).
[8] Memberikan ucapan selamat kepada orang yang Mepadun.
[9] Nasihat kepada yang Mepadun
[10] Doa Selamat
[11] Makan Mei Pepadun (yang mengajak harus orang yang Mepadun)
Note:
● Mei Pepadun ini dibawa oleh pihak istri Penyimbang dan/atau pihak istri calon Pegawo Tuho yang mau Mepadun.
● Mei Pepadun ini adalah nasi putih yang di atasnya ada "manuk meghem" yaitu ayam panggang yang di bawahnya ada telur ayam rebus yang ditaruh di atas Talam Bekaki dan Berkembang yaitu ada lidi yang dililitkan uang kertas dan ditutup dengan tudung dan/atau dikelilingi Kain Sebagi yang disebut juga Mei Tuho.
● Selain Mei Tuho terdapat pulu Dodol Berkembang atau Juadah Tuho yang jumlah lidinya sama dengan Mei Berkembang.
● Tidak semua kampung di Lampung Abung Siwo Migo menghidangkan Mei Pepadun
[12] Turun Daw (menurunkan/membagi uang adat) kepada para Penyimbang dan/atau Pegawo yang memiliki Pepadun.
[13] Yang Mepadun dan telah bergelar Suttan diarak ke rumah adat (Nuwo).
[14] Pangan Kibau Pepadun (memakan dengan lauk daging kerbau dari kerbau orang yang telah mendapat gelar Suttan) oleh para Penyimbang, Pegawo Tuho, dan Kepala Kampung.
[15] Tabuh Pulang Ulang Temui (musik kulintang berirama mengiringi kepulangan para tamu).
[16] Selesai.
Semoga bermanfaat agar adat tetap lestari. Insya Allah, dapat meluruskan catatan Wikipedia sehingga pemerhati budaya Lampung beradat Pepadun dapat memahami. Tabik Pun.
Sumber : H. M. Amperawan Glr. St. Pn. Rj. Guntur Marga
0 Komentar