Sejarah, Asal-Usul, dan Perkembangan Adat Suku Krui di Pekon Ulu Krui

 


Pekon Ulu Krui merupakan bagian dari asal-usul dan sejarah perkembangan sub-suku Lampung yang mendiami Peminggir Pantai bagian Barat Provinsi Lampung, yaitu Suku Krui. Identitas suku bangsa Lampung ini ditandai dengan sumber kehidupan dan kebutuhan sehari-hari yang sangat bergantung pada sungai dan lahan pertanian.

Secara historis, penamaan sub-suku Lampung sering kali didasarkan pada aliran sungai tempat mereka menetap:

Suku Abung: Orang Lampung yang menetap di sekitar aliran Way Abung. 

- Suku Tulang Bawang: Orang Lampung yang tinggal di perairan Way Tulang Bawang. 

- Suku Pubiyan: Orang Lampung yang menetap di sekitar aliran Way Pubiyan. 

- Suku Krui: Orang Lampung yang menetap di perairan Way Krui.

1. Asal-Usul dan Migrasi Paksi Pak Tungkok Pedang

Sejarah Suku Krui merupakan kelanjutan dari sejarah Paksi Pak Tungkok Pedang, yang terdiri dari empat kelompok buay (klan):

1. Buay Bulan (Puyang Sakti bin Naga Berisang)

2. Buay Nuwat (Puyang Serata di Langit)

3. Buay Semenguk (Puyang Pandak Sakti) 

4. Buay Aji (Puyang Rakihan Sakti) 

Setelah Paksi Pak Skala Brak berdiri, Paksi Pak Tungkok Pedang membubarkan diri dan berpindah ke daerah Ranau, Komering Ulu. Dari daerah Komering (tepatnya di Liba Haji), mereka mulai menyebar ke wilayah Lampung yang kita kenal sekarang: 

- Daerah Pantai: Sebagian menuju wilayah pesisir dan menganut adat Peminggir. Kelompok ini dipimpin oleh Ratu Buay Bulan. 

- Daerah Pedalaman: Sebagian lainnya menuju pedalaman dan melanjutkan tradisi adat Pepadun. 

Keterkaitan Rumpun

Suku Lampung yang menetap di aliran Way Krui merupakan keturunan Buay Bulan Jurai RATU DI ALAM GEDAH bin Puyang NAGA BERISANG yang beradat Peminggir. Oleh karena itu, Suku Peminggir Krui dikelompokkan serumpun dengan Suku Komering yang berasal dari Liba Haji, Muara Dua, Komering Ulu. Sebelum menetap di Liba Haji, suku ini merupakan penghuni Skala Brak dari keluarga Paksi Pak Tungkok Pedang. 

Sementara itu, Suku Lampung yang menetap di sekitar aliran Way Semaka adalah keturunan Buay Bulan Jurai RATU DI PEMANGGILAN. Dari daerah Semaka, mereka bergerak menuju aliran Way Rarem dan terakhir menetap di aliran Way Tulang Bawang dengan menganut adat Pepadun. 

2. Persebaran di Sepanjang Aliran Way Krui

Dari keempat Paksi tersebut, hanya ada 3 (tiga) Punyimbang Paksi yang keturunannya menetap di sepanjang aliran Way Krui: 

- Klan Puyang Serata di Langit (Tulut Orang Dunia): Menetap di bagian hulu (Ulu) dan mendirikan Kampung Ilahan. 

- Puyang Naga Berisang (Ki Demang Surabaya bin Ratu di Alam Gedah): Menetap di bagian tengah dan mendirikan Kampung Krui. 

- Puyang Rakihan Sakti. 

Catatan Klan Lain: Keturunan Buay Semenguk menetap di aliran way yang berada di sekitarnya dan masuk ke dalam Klan Ratu di Alam Gedah. Sebagian dari mereka pindah ke daerah Way Semaka mengikuti Klan Puyang Ratu Pemanggilan. 

3. Asal-Usul Nama dan Evolusi Kampung

Penangkal Perompak (1340 M)

Nama "Krui" diilhami dari daerah yang banyak tumbuh tanaman Kaur berduri. Tanaman ini digunakan ketika Paksi Pak Tungkok Pedang menghalangi perompak Cina yang hendak masuk ke daerah Skala Brak pada tahun 1340 M. 

Menjadi Kampung Gedung Cahya

Pada masa pemerintahan Dalom Way Urang bin Ki Demang Surabaya, nama Kampung Krui diubah menjadi Kampung Gedung Cahya. Perubahan ini terjadi karena Kampung Krui terdampak abrasi aliran Way Krui Purba, sehingga permukiman harus dipindahkan sedikit ke arah hilir.

Menjadi Kampung Ulu Krui

Pada periode selanjutnya, banyak suku dari daerah Ranau yang datang dan bermukim di sekitar aliran Way Krui. Karena Kampung Ilahan di hulu tidak berkembang, keturunan Orang Dunia akhirnya pindah dan bergabung dengan Krui. Penggabungan ini mengubah nama wilayah tersebut menjadi Kampung Ulu Krui. 

4. Masa Kolonial dan Sistem Pemerintahan

Catatan sejarah Belanda menyebutkan bahwa daerah Ulu Krui dipimpin oleh Ki Demang Surabaya. Suku-suku yang mendiami Bandar Ulu Krui kala itu meliputi:

1. Suku Gunung 

2. Suku Raja 

3. Suku Marga 

4. Suku Bumi 

Sistem pemerintahan Ulu Krui berjalan dengan sangat baik dan dilengkapi dengan Balai Kratun yang terletak di pertemuan aliran Way Gunung dan Way Krui. 

Peralihan Kekuasaan Zaman Penjajahan

- Masa Inggris: Di bawah Gubernur Jenderal Sir Stamford Raffles, Krui sempat digabungkan ke dalam Keresidenan Bengkulu dengan nama Afdeeling Krui (dibagi menjadi Pesisir Utara, Pesisir Tengah, dan Pesisir Selatan). 

- Masa Belanda: Ulu Krui kemudian diperintah oleh keturunan Rakihan Sakti. Karena pemerintahan dinilai terlalu lemah, saat restrukturisasi oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1928–1930, Ulu Krui diubah bentuknya menjadi Marga. Atas dukungan Suntan Akbar Sukau, Marga Ulu Krui dipimpin oleh Japilus. 

Perwatin Telu Ulu Krui

Meskipun sistem marga dibentuk oleh Belanda, pemerintahan adat Bandar Ulu Krui tetap diakui dan dipegang secara kolektif oleh tiga keturunan (Buay), yang dikenal dengan nama Perwatin Telu Ulu Krui: 

1. Keturunan Ki Demang Surabaya bin Ratu Alam Gedah bin Puyang Naga Berisang di Gedung Cahya / Sukaraja (Buay Bulan). 

2. Keturunan Rakihan Sakti (Buay Aji). 

3. Japilus di Gunung Kemala yang didukung oleh Suntan Akbar Sukau (Buay Nyerupa). 

Di penghujung pemerintahan Belanda, saat Krui dipimpin oleh Asisten Residen (Kontroler) O.L. Helfrich, Kampung Gedung Cahya berganti nama menjadi Sukaraja. 

5. Era Kemerdekaan RI hingga Saat Ini

Setelah Indonesia merdeka, eks-Kewedanaan Krui kembali bergabung ke pangkuan Ratu Pak di Lampung. Pada tahun 1966, Abdullah Syurkati Buay Bulan dan Buay Aji mengambil kembali hak ulayat warisan nenek moyang mereka atas Tanah Ulu Krui. 

Sejak saat itu, Ulu Krui resmi menjadi desa di bawah pimpinan Kepala Desa H. Khaliq, dengan wilayah yang meliputi: 

- Suka Raja (Gedung Cahya) 

- Suka Marga (Kamal) 

- Kampung Baru dan sebagian daerah Kejadian. 

Peninggalan Sejarah

Sebagai bentuk apresiasi atas jasa masyarakat Krui dalam memperkaya adat budaya Lampung, Gubernur Lampung Zainal Abidin Pagar Alam melakukan renovasi total terhadap masjid tua yang berada di dekat Balai Kratun Ulu Krui. Masjid bersejarah tersebut dinamakan Masjid Nurul Iman, yang terletak di Sukaraja, Pekon Ulu Krui. 

Catatan Kaki (Referensi):

1. Marwansyah Warga Negara, Anjungan Lampung, TMII.

 2. DEPDIKBUD, Ungkapan Tradisional Daerah Lampung, Jakarta 1985, hal. 6.

3. Abdullah Syurkati, Lamban Gedung Gedung Cahya, Buay Bulan Krui (Mantan pejuang 45 berpangkat Sersan dari Sukaraja-Ulu Krui).

 

Posting Komentar

0 Komentar