Pencak Tigol

 


Di masa Buay Tumi, ada tiga pemuda kembar bernama Baban, Babin, Babun yang meminang seorang gadis bernama Mauli di dusun Cempaka OKU Timur. Mereka bertiga memperebutkan gadis cantik dan anggun tersebut. Ayahanda Mauli kemudian mengadakan sayembara hingga akhirnya Baban lah yang memenangkan sayembara tersebut. Babin dan Babun yang kecewa karna gagal memenangkan sayembara akhirnya pergi meninggalkan desa, Babin merantau ke ilir yaitu ke daerah Kayu Agung mengembangkan usaha Tembikar sedangkan Babun merantau ke ulu yaitu ke daerah Abung Lampung mengembangkan Tanaman Damar. Tetapi pernikahan mereka tidak berlangsung lama, 3 bulan setelah itu Baban meninggal dunia.

Berita mengenai kematian Baban baru diketahui Babin dan Babun 3 bulan kemudian, maklum ketika itu sistim informasi belum begitu canggih sehingga penyampaian berita memerlukan waktu relatif lama. Rasa cinta Babin kepada Mauli rupanya belum padam, oleh sebab itu Babin yang menetap di Kayu Agung ingin pulang kampung untuk mempersunting Mauli yang sudah berstatus janda. Babun pun ternyata memiliki hasrat yang sama seperti Babin yaitu ingin menikahi Mauli sang janda kembang yang konon makin bersinar kecantikannya setelah 3 bulan menjanda.

Oleh sebab itu Babun mengutus rombongan yang merupakan teman dan kerabatnya dari Abung untuk meminang Mauli. Namun sesampai di dusun Cempaka rombongan tersebut baru tau bahwa si janda sudah sepekan lalu diperistri oleh Babin. Rombongan Abung itu murka dan melakukan aksi makar untuk merebut kembali Mauli dan membawanya secara paksa kepada Babun di Abung. Peristiwa itu dikenang masyarakat Buay Tumi sebagai Perang Abung-Cempaka yang menyebabkan Babin terbunuh secara kejam. Babun sungguh menyesalkan peristiwa itu karena yang menjadi korban adalah saudara kembarnya sendiri yaitu Babin yang seminggu lebih cepat memperistri Mauli sang janda kembang. Adapun pimpinan rombongan Abung juga tak mengetahui bahwa antara Babin dan Babun sebetulnya masih bersaudara kembar.

Adat budaya yang hingga kini masih berlaku di lingkungan muda-mudi Komering intinya adalah menyerahkan souvenir kepada seorang gadis untuk mengungkapkan kesungguhan hati bahwa kelak si bujang akan meminang si gadis. Souvenir yang diberikan wujutnya macam-macam, bisa saja sebuah Kelambu, kain sarung, bahan pakaian, kelapa, beras ketan, gula, atau sembako dan sejenisnya. Benda-benda yang hendak diberikan bujang kepada gadis ini dinamakan dengan istilah “Baban”. Aktifitas yang dilakukan namanya “Bubaban”. Biasanya para gadis Komering membalas pemberian itu dengan penganan misalnya kue bolu atau jenis penganan lainnya hasil karya si gadis.

Aksi makar atau peperangan yang terjadi dalam memperebutkan mempelai wanita, kini di-ejawantahkan dalam bentuk tarian dengan nama “Tari Tigol”. Konon Tigol mengambil kata dasar “tigolgol” ataupun “tibagol” yaitu suatu perbuatan makar atau penganiyayaan. Namun karena etika moral dalam seni budaya mengutamakan dan menjunjung tinggi norma kebaikan maka nama tarian agak diplesetkan dikit dari tigolgol menjadi tigol saja. Tari Tigol biasanya dilakonkan oleh dua kelompok ahli pencak silat yang masing-masing menghunus parang panjang. Mereka bersilat dalam gaya tarian seakan-akan berperang untuk memperebutkan mempelai wanita.

Sumber: Yayasan Alam Melayu Sriwijaya

Posting Komentar

0 Komentar